Sabtu, 11 Juli 2020 | 19:16 WIB

TP4 HARGA YANG TIDAK BISA DITAWAR

  

Dalam dunia perdagangan dan bisnis, tawar-menawar adalah hal yang biasa dan lumrah. Beragam transaksi ekonomi, kalau bisa ditawar-tawarlah! Pasar tradisional  merupakan ladang subur terjadinya fenomena tersebut di atas. Semua barang ditawar! Bukan hanya harganya yang ditawar, tak jarang jumlah barangnya pun ikut ditawar, istilahnya bonus. Sudah diskon minta tambahan bonus pula. Itulah yang terjadi di dunia usaha dan perdagangan, agar terjadi kenyamanan dalam proses jual beli antara penjual dan pembeli.

Berbicara mengenai berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketua Jaringan Bandung Inisiatif (JBI), Arry Mulia Subagya menekankan dengan tegas dan jelas, bagi JBI, Pancasila dan UUD `45 merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar.
“Bagi kami, Pancasilan dan UUD `45 kontrak mati,” kata Arry.

Penegasan ini, ia sampaikan saat pertemuan dengan para awak media hari Rabu 10 April 2019 di Rumah Makan Sindangreret Jl. KH. Hasan Mustapa Bandung dalam acara persiapan launching JBI. Bagi JBI, tegasnya, tetap kukuh dengan ideologi Pancasila dan UUD `45. “Jadi, jika ada ideologi lain yang ingin hidup di NKRI jangan bermimpilah dan tidak ada tawar-menawar,” tegasnya pula.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (PL-PB) terdapat tawar-menawar dengan Tuhan. Proses perjalanan dalam mengikuti kehendak Tuhan, Abraham, Lot, Nabi Musa, dan Yesus orang Nasaret, mereka pernah melakukan tawar-menar dengan Tuhan.

Abraham tawar-menawar dengan Tuhan tentang hal:

  1. Pewaris dan warisan (Kej.15:1-6).
  2. Tanah Perjanjian (Kej. 15:7-21).
  3. Penghukuman (Kej. 18:16-33).

Abraham meminta dengan kesungguhan hati melalui tawar-menawar kepada Tuhan untuk generasi yang diberkati dan memberkati. Memohon melalui doa syafaat agar membatalkan hukuman terhadap Sodom dan Gomora karena ada orang benar yang diam di sana. Abraham melakukan tawar-menawar dengan Tuhan karena kepentingan umat Allah dan generasi Ilahi yang akan menjadi berkati bagi bangsa-bangsa (Kej. 12:3;  Gal. 3:8).

Lot meminta belas kasihan dan kemurahan Tuhan dengan melakukan tawar-menawar kepada malaikat Tuhan mengenai :

  1. Tumpangan dan jamuan (Kej.19:1-3; Ibr.13:2).
  2. Tempat yang aman (Kej.19:16-23). 

Tawar-menawar Lot dengan Malaikat Tuhan untuk kepentingan pribadi dan keluarga agar terhindari, dan selamat dari penghukuman.

Musa memohon dengan segenap hati melalui tawar-menawar dengan Tuhan perihal :

  1. Melunakan hati Tuhan atas murka-Nya terhadap Israel (Kel. 32:9-14). 
    Pengampunan atas dosa besar Israel yakni membuat patung lembu emas serta menyembahnya. Musa mempertaruhkan hidupnya yakni rela namanya dihapus dari kitab kehidupan (Kel. 32:31-33; Maz. 69:29; Wah.3:5).
  2. Meminta penyertaan Tuhan (Kel. 33:12-17).
  3. Meminta Tuhan memperlihatkan Kemuliaan-Nya (Kel. 33:18-20).

Nabi Musa tawar-menawar dengan Tuhan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi bagi pengampunan umat Tuhan. Musa rela puasa 40 hari 40 malam tidak makan dan minum, namanya di hapus dari kitab kehidupan untuk pengampunan dan keselamatan umat Israel. 

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Yesus melakukan tawar-menawar dengan Allah Bapa pada saat di taman Getsemani melalui doa syafaat mengenai :

  1. Salib lalu dari pada-Nya (Mat. 26:38-39).
  2. Rela menanggung dosa seisi dunia (Mat.26:42-46).

Yesus mengetahui dan mengerti bahwa tawar-menawar bisa saja disampaikan kepada Tuhan oleh setiap orang percaya melalui doa dan permohonan, namun  kehendak dan rencana Allah yang pasti jadi.

Sebuah harga yang tidak bisa dilakukan melalui tawar-menawar dengan Tuhan adalah:

=> HIDUP DALAM KETAATAN.

Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, hilang kemuliaan dan diusir dari taman Eden, karena tidak taat. Paulus menjelaskan bahwa ketidaktaatan satu orang maka semua orang telah berbuat dosa dan menjadi hamba dosa (Rom. 3:23; 5:12, 19). Upah dosa ialah maut dan tidak ada yang bisa melepaskan manusia dari kutuk dosa (Rom. 6:23; 7:24).

Allah memberikan sepuluh hukum Taurat melalui Musa supaya umat Allah bisa memiliki kehidupan yang taat, tetapi tidak ada satu orangpun yang dapat melakukan hukum Taurat (Rom. 3:20;  Gal. 2:16;  3:10-14) . Taurat tidak dapat menyelamatkan manusia, karena itu Allah mengutus Anak-Nya yaitu Yesus, Dia datang bukan untuk meniadakan Taurat, tetapi untuk mengenapkan Taurat (Mat. 5:17). Yesus taat pada putusan Allah sampai mati di kayu Salib untuk menyelamatkan manusia dari kutuk dan hukuman dosa (Fil.2:8). Paulus menjelaskan seseorang menjadi apa, dari apa dan siapa, itu dari apa yang ditaatinya.

Hanya ada dua pilihan menjadi hamba:

  • Mentaati dosa menjadi hamba dosa.
  • Mentaati Allah dan firman-Nya menjadi hamba kebenaran.

Seberapa banyak kerlibatan kita dalam pelayanan rohani tidaklah “penting”. Tetapi seberapa “taat” seseorang, itulah yang penting. Melayani dalam pelbagai kegiatan rohani tetapi tidak taat sama dengan pembuat kejahatan, itu searti dengan apa yang disuruh untuk dilakukan tetapi tidak dilakukan, namun yang tidak disuruh itu yang dilakukan, itu sama dengan tidak taat (Mat. 7:23).

Jadi orang yang terlibat dalam pelayanan bisa saja tidak taat, tetapi orang yang taat pasti melibatkan diri dalam pelayanan. Ketaatan dari pelayanan kita adalah bukti dari:

  • Kedekatan dengan Allah. Kita tidak bisa melayani Allah dari kejauhan (Yakobus 4:7-8).
  • Ketundukan diri. Seorang tidak dapat melayani dengan benar jika tidak menundukkan diri dengan segenap hati, dan harus mengenal Dia serta merendahkan hati).

Ukuran ketaatan adalah ketika situasi kondisi baik atau tidak baik, sesuai keinginan kita atau tidak, kita harus T-A-A-T.
Perhatikan perumpamaan tentang benih yang ditaburkan di tanah yang keras, tanah berbatu-batu, tanah bersemak duri dan tanah yang baik.
Tanah yang baik berbicara tentang orang percaya yang taat, dia akan berbuah tiga puluh kali, enam puluh kali dan seratus kali ganda.
Orang taat menantikan Tuhan dan firman-Nya, dan orang yang tidak taat akan tetap taat pada saat keadaan baik-baik saja.

Ketaatan kepada Allah lebih dari pada korban. Orang yang taat pasti berkorban, melayani dengan tulus, mau berdoa, rajin beribadah, dan tahu bersyukur atas segala sesuatu.

Taat itu berarti:

  • Mencintai apa yang Allah cintai.
  • Melakukan apa yang Allah lakukan.
  • Membenci apa yang Allah benci.

Taat juga berarti kesanggupan kita untuk tetap memilih apa yang benar meskipun pilihan yang salah sangat menarik dan memiliki kesempatan yang sangat terbuka. Ketaan memberikan arah dalam kehidupan dan memberikan perlindungan dalam hidup (Yer.29:11).Ketaatan menjadi tanda bahwa kita mengasihi Tuhan. Jika kita taat pada peraturan-Nya maka, ketaatan kita akan membuahkan hasil yang sangat baik dan memampukan kita untuk memaksimalkan hidup kita.

Taat berbicara tentang sikap senantiasa dalam penundukan diri, patuh, tidak berlaku curang, setia, saleh.
T-A-A-T tidak bisa ditawar artinya berlaku untuk semua orang (laki-laki, perempuan, tua muda, miskin kaya, pandai atau tidak, dlsb) harus taat.
Jika taat bisa ditawar, maka akan terjadi:

  • Korupsi.
  • Kolusi.
  • Nepotisme.

Karena itu semua orang harus taat dalam menjalani hidup  kepada apa yang menjadi kehendak Allah. Karena Allah merancangkan  yang baik bagi kita sebagai umat-Nya. 

=> HIDUP DALAM KEKUDUSAN (1 Pet.1:13-16, 22)

Salah satu definisi kekudusan adalah berada dalam keadaan murni. Dalam bahasa Ibrani, kata kudus adalah “Kadosh” artinya naik tinggi. Dalam bahasa Inggris, definisi kudus adalah “above average” artinya di atas rata-rata. Tuhan memanggil kita untuk naik ke standar-Nya, untuk hidup sebagaimana Dia hidup dan berpikir sebagaimana Dia berpikir.  Inilah panggilan Tuhan orang percaya yakni gereja-Nya: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Pet.1:13-16).

KEKUDUSAN TIDAK BISA DITAWAR, itu adalah firman Tuhan, perintah, ketetapan dan hukum Allah artinya wajib untuk dilaksanakan dalam kehidupan umat-Nya (Kej.26:5;  Im. 11:44-45; 19:2).

Hidup menuruti kehendak Allah adalah sikap yang harus dimiliki oleh umat Allah sebagai karakter, komitmen, dan menjadi gaya hidup. Penurutan terhadap perintah Allah akan memurnikan iman.

Ayub adalah figur orang yang setia, dia saleh, dan menjauhi kejahatan, tetapi hidupnya mengalami pencobaan yang sangat berat seperti air bah menerpa kehidupannya, namun dengan kesetiaan dan kesalehannya Ayub dapat melewati itu semua dan ia tetap berdiri teguh dalam kesalehannya. Kesetiaan dan atau ketaatan melakukan ajaran dari Allah akan memberikan kekudusan, sehingga kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas.

Orang yang sombong berpikir ia dapat mencapai kekudusan dengan mengandalkan kekuatannya untuk mentaati berbagai peraturan. Sebaliknya orang yang rendah hati tahu bahwa ia tidak dapat mencapainya. Ia bergantung pada anugerah dan kekuatan Allah. Allah akan memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati. Kekudusan adalah pekerjaan anugerah Allah, bukan hasil kekuatan daging. Sebab tanpa kasih karunia Tuhan, tidak ada manusia yang mampu hidup dalam kekudusan.

Apakah yang akan didapatkan ketika kita hidup melakukan firman-Nya dengan setia dan atau taat:

1. Kekudusan hidup (1 Pet. 1:22).

Kamus alkitab memberi penjelasan mengenai kata “kudus” sebagai berikut: Allah adalah kudus, artinya Ia bebas terhadap dunia. Ia menguduskan manusia, artinya memilih mereka sehingga menjadi milik-Nya (Ibr.10:10, 14;  1Pet.2:9).

Sebagai umat pilihan-Nya, kita harus merespons kekudusan Allah dengan cara hidup dalam kekudusan yakni menyerahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati (Rom. 12:1).

Dalam Alkitab versi NKJ, “Ibadah yang sejati” dipakai kata “your reasonable service”. Reasonable artinya dapat dijangkau, berada dalam jangkauan kemampuan. Dengan kata lain, hidup dalam kekudusan adalah kehidupan yang dapat dijangkau dan merupakan kehidupan Kristen rata-rata, bukan sesuatu yang mustahil.

Dalam khotbah Yesus di bukit, Ia menjelaskan dan menegaskan bahwa berbahagialah orang yang suci hatinya, karena ia akan melihat Allah (Mat.5:8 bandingkan Maz. 24:3-4).
Kata suci atau kudus dalam Matius 5:8 sama dengan 1 Petrus 1:22 dipergunakan kata Yunani “Katharos” artinya Murni, tulus, memiliki motivasi yang benar, berintegritas, memilki mentalitas dan moralitas.

Setiap orang percaya yang taat pada Allah dan perkataan-Nya, mereka pasti memiliki kekudusan hidup. Ketaatan dan kekudusan adalah sebuah harga yang tidak bisa di tawar-tawar.

Musa seorang nabi yang luar biasa disertai Tuhan dengan Mujizat dan tanda-tanda heran, berbicara muka dengan muka serti seorang sahabat dengan Allah (Kel.33:11), tetapi Musa hanya diijin Tuhan melihat tanah perjanjian yang penuh susu dan madu, tetapi tidak dijinkan masuk karena melanggar kekudusan-Nya (Ul. 32:48-52;  34:1-5).
Hidup dalam kekudusan adalah sebuah harga yang tidak bisa ditawar-tawar.

2. Memiliki Dasar Yang Teguh (Mat. 7:24-27; 24:13-14; 1 Kor.3:10).

Perhatikan Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego; Mereka adalah orang percaya yang dapat dipercaya karena ketaatan mereka kepada Allah dan perkataan-Nya. Mereka memiliki kekudusan dalam hidup, dan dasar yang teguh. Mereka tidak bergeser ketika menghadapi persoalan, kesulitan yang begitu besar. 

Keteguhan yang mereka miliki membawa pada kelimpahan dan kemuliaan. Keteguhan yang dihasilkan dari ketaatan dan kekudusan membuat mereka lebih segar (gemuk), mendapat kasih karunia, Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, Daniel mempunyai pengertian tentang berbagai penglihatan dan mimpi, mereka sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu dan semua ahli jampi diseluruh Kerajaan Babel (Dan.1:8-20).

Mereka tidak bergeser dan dihanyutkan oleh sikon, mereka mampu bertahan dalam tantangan, cobaan dan badai hidup, karena mempunyai dasar yang teguh (1 Kor. 3:10-11).

3. Memiliki Jalan Keluar (1 Kor. 10:13; Kel. 14:14).

Orang yang taat atau tidak taat, orang yang kudus atau berdosa, sama-sama menghadapi persoalan dan pencobaan dari dalam maupun dari luar. Yang membedakan adalah sikap mereka dalam menghadapi persoalan tersebut.
a. Orang taat dan kudus -> Optimis, senyum, dan bersyukur.
b. Orang tidak taat -> Pesimis, kuatir, bersungut-sungut.

Di mata Tuhan, orang hidup dalam ketaatan dan atau hidup dalam kekudusan, mendapat kepastian dan jaminan baik waktu hidup ataupun mati, ada “kebahagiaan”. (Maz.116:15; Wah. 14:12-13).

Membaca dan mempelajari tema “HARGA YANG TIDAK BISA DITAWAR” akan membuat pembaca mengetahui betapa pentingnya  hidup dalam ketaatan dan kekudusan. Taat dan kudus adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Kiranya dengan penjelasan di atas memberikan kesadaran dan menjadi pendorong bagi kita semua untuk hidup taat dan kudus kepada Tuhan dan firman-Nya. Yesus Kristus memberkati. Imanuel. (Pdt. Hengky Tohea, (ketua Badan Media Cetak & Elektronik MP 2017-2022).
-------------------------