Kamis, 23 Mei 2019 | 16:20 WIB

Yang Tercecer, Natal 2018 di Ngunut

Di kota kecil Ngunut Tulungagung Jawa Timur, ada GPdI yang mengadakan ibadah dan perayaan Natal 2018 yang unik. Mungkin karena ini dipengaruhi oleh background gembalanya yang hobi nonton teater Koma, beliau jebolan Sarjana S1 Sastra Belanda UI dan  resign saat mencapai suatu posisi yang sudah mapan di perusahaan keuangan terkenal di Jakarta. Meninggalkan semua itu dan memilih melayani fulltime.

Gembala dan panitia pasti merasa bersyukur atas kesempatan dan talenta yang Tuhan anugerahkan, proses yang lumayan singkat namun bisa membentuk para jemaat GPdI Ngunut yang luar biasa hingga acara Perayaan Natal GPdI Ngunut, Tulungagung bisa diselenggarakan.

"Yang bekerja dan yang memungkinkan acara itu terjadi adalah panitia dan jemaat yang sangat mendukung, bukan hasil kerja saya," kata pak Y. Yohanes, gembala yang gagal masuk fakultas Psikologi UI ini.

Peringatan Natal yang juga dihadiri pejabat pelaksana bupati Tulungagung Maryoto Birowo, dihadiri lebih dari 3000 warga hadir, terlihat akrab dan rukun menyaksikan pertunjukan wayang, sinden dan pelawak.

Puji Tuhan Sendratari “Satria Pinandita” dengan 60 penari dapat perform dengan baik. Juga support dari team Live Music Karawitan dan Live Music Modern yang sangat baik.

Puncak peringatan Natal adalah pegelaran wayang semalam suntuk dengan lakon Gatotkaca Winisudo dengan dalang Sun Gondrong, juga dimeriahkan Jo Klitik dan Jo Klutuk si duet pelawak serta Niken Salindri, Lusi Brahman dan Proborini sang pesinden.

"Lakon Gatotkaca Winisudo ini menceritakan tentang penobatan Gatotkaca sebagai penguasa jagad raya. Ini diidentikkan dengan Yesus yang hadir / lahir menjadi penguasa / pengayom bahkan menjadi penyelamat / juru selamat dunia," jelas si bapak gembala yang tampak awet muda.

"Misi awal dari natal kita yg seperti itu adalah memberitakan bahwa gereja ada dan hadir di masyarakat bukan sebagai ancaman tapi hadir untuk menyaksikan damai sejahtera yang Tuhan telah beri dan telah dirasakan gereja," tambah pak gembala yang sangat rendah hati.

"Gereja juga bukan entitas yang anti kebudayaan, tentu kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Firman Allah," kata beliau dengan semangat.

Halo Ngunut, tetaplah menjadi dirimu apa adanya, pancarkan kasih dan damai sejahtera, sehingga istilah Ekklesia bukan hanya dijadikan pajangan. (Sumber: GPdI Ngunut).

Video saat perayaan Natal GPdI Ngunut, silakan klik logo dibawah ini:

Ibadah akhir tahun 2018 dan mengawali awal tahun 2019 di GPdI Ngunut:

 

 ------------------------------------