Kamis, 22 Agustus 2019 | 00:53 WIB

Ketum: Pesan Awal Tahun 2019

Di bidston hamba Tuhan se DKI Jakarta, yang diadakan di GPdI El Uzay Muara Karang, Jakarta Utara, tanggal 14 Januari 2019, dihadiri oleh Pdt. Drs. Johannis Lumenta, sekretaris umum MP, Pdt Kafiar, ketua departemen Pembangunan Gedung Gereja Pedesaan, Pdt. Dr. Hendrik Suangga, departemen Penggembalaan dan Peningkatan Sumber daya Manusia , Pdt Adi Sujaka, ketua MD Jawa Timur, Pdt Hendrik Runtukahu, sekretaris Majelis Pertimbangan Rohani MP, Pdt Hadi Prayitno, bendahara MD jawa Timur. Ketua umum Majelis Pusat (ketum MP) GPdI yang juga gembala GPdI El Uzay menginformasikan bahwa sesuai AD/ART, Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) diadakan minimal 2 (dua) kali dalam satu periode (1 periode = 5 tahun).


“Dalam periode Majelis Pusat yang lalu (2012 – 2017), MUKERNAS pertama tahun 2013 diadakan di Medan, yang kedua di Semarang, ketiga diadakan di hotel Seruni Cipanas, MUKERNAS keempat di gedung Sentra GPdI Jakarta, sekaligus pentahbisan gedung yang dipakai tersebut,” ungkap Pdt Johnny Weol, ketum MP GPdI periode 2017 – 2022.

“Sekali MUKERNAS, memerlukan dana sekitar 3 (tiga) Miliar. Jadi kalau 4 kali Mukernas, biayanya 12 (dua belas) Miliar," kata ketum setelah bertanya kepada panitia Mukernas 2019 yang hadir saat itu, salah satunya adalah Pdt. Adi Sujaka, ketua panitia.

"Di era periode sekarang (2017 – 2022), saya mengambil kebijakan hanya 2 kali saja, supaya kita bisa men “save” dana sekitar 6 (enam) Miliar. Kompensasi dari hanya 2 kali MUKERNAS, uang itu kami salurkan untuk pembangunan gereja pedesaan. Di “sela-sela” Mukernas ini bisa diadakan Rapat Koordinasi Nasional,” tambah ayah dari 2 orang anak wanita ini.

Lanjut mantan pengerja GPdI Ketapang ini mengatakan bahwa Gereja kita yang secara “quantity” besar sekali, sudah masuk dalam ranah istana Presiden, karena pada waktu diadakan Natal di Solo tanggal 13 Desember 2018, Presiden mengirim utusan salah satu anggota staf Presiden, dan sudah masuk laporan ke beliau. Dan ketum MP ini coba proyeksikan, upayakan agar Presiden hadir di acara 100 tahun GPdI (Tahun 2021 – red).

Lalu ketum menyambung tentang gereja, dengan mengatakan bahwa MP sejak bulan Maret 2018, dari departemen Pembangunan Gedung Gereja Pedesaan (https://gpdi.or.id/pages/pengurus-mp-2017-2022 ), telah menangani pembangunan gereja, dengan ketentuan maksimal “budgetingnya” adalah 60 juta per gereja, terdiri dari uang MP 20 juta, sedangkan 40 juta dari team yang terdiri dari orang-orang yang punya dedikasi tinggi memberikan korban. Yang sudah ditahbiskan 1 (satu) gereja di Jawa Timur yang digembalakan Pdt Eric Estrada, orang jawa asli.

“Orang-orang yang ikut di team tersebut, bukan untuk jalan-jalan. Melainkan harus menyumbang. Ada satu daerah yang memerlukan 11 jam perjalanan darat dan menyebrangi sungai Barito yang banyak buaya,” kata ketum yang menggembalakan GPdI El Uzay Muara Karang Jakarta Utara dan GPdI El Uzay Taman Aries Jakarta Barat.

Ketum membentuk departemen ini karena beliau sendiri mendengar ada Pendeta bukan GPdI melecehkan Pendeta GPdI dengan mengatakan bahwa belasan ribu GPdI itu jumlah yang banyak, tapi miskin, alasannya adalah ada setumpuk proposal di kantornya berasal dari GPdI.


Bangunan gereja yang sedang di bangun sampai saat ini lebih dari 20 buah, di Jawa Timur ada 4 bangunan gereja, Jawa Tengah 5 bangunan, Riau Daratan 3 buah, Jambi baru 1, Kalimantan Tengah ada 5, Sulawesi Barat 2 bangunan, Manado 8, Gorontalo 1, Nusa Tenggara Barat 4 buah.

Ketum menambahkan, setelah acara bidston akan dilanjutkan rapat untuk meneruskan program pembangunan gereja pedesaan dan rapat persiapan MUKERNAS yang akan diadakan tanggal 14-16 Mei 2019 di hotel Ijen, Malang. Pdt Adi Sujaka dipercaya menjadi ketua Panitia.

Di akhir sambutannya, ketum menghimbau bahwa kalau mencintai GPdI, “pandailah-pandailah” menggunakan Medsos, tapi jangan jual GPdI. Pernyataan ketum ini didasarkan atas beberapa bulan lalu saat ketum membuka acara Rapat Kerja Nasional Badan Hukum MP, ada yang menyampaikan kepada ketum bahwa jemaat mereka sebanyak 2 keluarga keluar dari GPdI setelah membaca Medsos.
“Artinya kejelekan kekurangan gereja kita dijual oleh kita sendiri dan dibaca oleh sekian banyak orang,” kata Pdt John Weol.

Ketika Pdt. Adi Sujaka beserta panitia Mukernas lainnya pamit meninggalkan GPdI El Uzay tersebut, ketum mengantar sampai pintu gerbang, Nampak terlihat percakapan yang sangat cair diantara dua tokoh ini.

"MD Jatim Konsisten mendukung setiap program MP.  Loyalitas MD Jatim tdk perlu diragukan.  arena itu Ketum juga tidak berlebihan mempercayakan MD Jatim sebagai tuan rumah pelaksanaan MUKERNAS 14-16 Mei 2019 mendatang," kata Pdt. Richardo Nainggolam, wakil sekretaris MD Jatim. (**)

    

  

------------------------------------------