Kesejahteraan Bangsa Adalah Kesejahteraan Gereja

Kesejahteraan Bangsa Adalah Kesejahteraan Gereja
Ayat Pokok: Lukas 4:18

Oleh: Pdt. DR. M.D. Wakkary

Umat manusia di planet bumi ini yang tahun 2013 sudah mencapai 7,2 milyar, semuanya merindukan kesejahteraan. Bangsa-bangsa, negara-negara memiliki berbagai program dan usaha untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Indonesia, dari awal kemerdekaannya, tahun 1945 sudah memiliki Undang-Undang Dasar 1945 di mana dalam Pembukaan tercantum pembentukan Pemerintahan Negara Indonesia yang tugasnya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Di tahun ini setelah 68 tahun merdeka, bangsa Indonesia yang sudah berjumlah sekitar 250 juta jiwa masih harus berjuang untuk meningkatkan kesejahteraannya. Masih banyak dari rakyat Indonesia yang belum sejahtera. Karena 50% dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia diperkirakan masih miskin. Tetapi bukan saja di negeri kita melainkan gambaran umum se-dunia.

Menurut “World Bank Development Research Group” pada tahun 2004, sekitar 40% dari 6,5 milyar penduduk dunia, hidup dalam kemiskinan padahal 2 dasawarsa sebelumnya sekitar 36%. Yang paling parah adalah situasi di Afrika, kemiskinannya mencapai 46,9%.

Dan di seluruh dunia pada dekade yang lalu, terdapat 877 juta hidup sangat miskin serta kecenderungannya masih terus bertambah.

Jadi, kehidupan sejahtera secara global dan nasional belum begitu menggembirakan. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun terakhir cukup baik stabilitasnya sekitar 5%. Tapi sayangnya ketimpangan si kaya dan si miskin masih sangat besar di negeri kita.

Tuhan Yesus dalam misi keselamatan manusia di dunia sangat memberi perhatian kepada orang miskin seperti tertulis di Injil Lukas 4:18 :

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku”.

Injil yaitu kabar baik tentang keselamatan dan kesejahteraan manusia yang percaya kepada Yesus Kristus diberitakan kepada orang-orang miskin.

Rasul Paulus menguraikan misi Yesus Kristus ke dunia dalam hubungan dengan orang miskin seperti tercantum di 2 Korintus 8:9, sebagai berikut :

“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Jadi, jikalau pemerintahan bangsa-bangsa di dunia berupaya dengan beragan perencanaan untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, terlebih lagi Tuhan Yesus yang datang ke dalam dunia untuk mensejahterakan manusia secara komplit : rohani, jiwani dan jasmani.

Kepada Titus, Rasul Paulus menulis : “Tuhan menyertai rohmu” (Titus 4:22), dan kepada Gayus, Rasul Yohanes menulis : “Semoga engkau baik-baik dan sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja” (3 Yohanes 1:2).

Umat Kristiani di Indonesia harus memberikan kesaksian atau testimony bahwa di daerah-daerah di mana terdapat komunitas Kristen yang relatif besar persentasinya seperti di Papua, Maluku, Sulawesi Utara, NTT, Tanah Toraja, Kalbar, Kalteng, Daerah Poso di Sulteng, Daerah Tapanuli, Nias dan Dairi di Sumatera Utara seharusnya lebih sejahtera dari daerah lainnya, namun kenyataannya tidak demikian.

Mengapa? Hal inilah yang harus kita gumuli, di saat kita berkumpul dalam suatu persekutuan yang meng-amin-kan bahwa kita merayakan tahun kesejahteraan.

China, sebagai model, suatu negara yang bukan Kristen, tetapi dapat dilihat oleh dunia bahwa mereka mampu mengangkat ratusan juta rakyatnya keluar dari kemiskinan oleh pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. China dapat memelihara pertumbuhannya sekitar 7% setiap tahun yang berbasis produk-produk ekspornya.

Dan justru dalam kesejahteraannya yang meningkat pekabaran Injil dan pertumbuhan gereja di sana juga meningkat. Saya mendengar kesaksian dari Pendeta Dunnis Balcomd yang berbasis di Hongkong, tetapi sering melayani di daratan China, jumlah umat Kristen di sana sudah mencapai 100 juta orang. Puji Tuhan!

Kita sedang hidup dalam era globalisasi yang memberi pengharapan bagi lebih majunya kesejahteraan bangsa-bangsa di dunia. Seperti tulisan Joseph Stiglitz dalam bukunya “Making Globalization Work”

“The great hope of globalization is that it will raise living standards throughout the world : give poor access to overseas markets so that they can sell their goods, allow in foreign investment that will make new products at cheaper price and open borders so that people can travel abroad to be educated, work and send home earnings to help their families and fund new business.”

Dengan dunia lebih terbuka dan perdagangan semakin bebas, ekonomi-keuangan bangsa-bangsa makin baik. Dan hal itu sudah dicapai oleh China dan sekarang menyusul Vietnam, India, Mexico dan beberapa negara lain.

Bagaimana dengan Indonesia? Penyakit Korupsi yang sangat parah di pemerintahan kita, menyebabkan kesejahteraan bangsa Indonesia menjadi lamban meningkatnya.

Tadi saya katakan bahwa di negeri kita ada daerah-daerah yang dikenal sebagai kawasan komunitas Kristen tetapi masih belum sejahtera dan akibatnya warga gereja di sana terus mengeluh karena keadaan mereka masih miskin.

Padahal Injil Kerajaan Allah mewartakan keslamatan dan kesejahteraan secara lengkap. Di mana salahnya, sampai belum sepenuhnya makna Injil Kerajaan itu diresapi oleh umat yang percaya?

Kita coba melihatnya dari 2 arah. Pertama, kewajiban Pemerintah. Tadi telah dikemukakan tugas pemerintah ialah untuk memajukan kesejahteraan umum.

Begawan ekonomi Indonesia almarhum Profesor Sumitro Djojohadikusumo dalam Simposium Masalah Energi, Sumber Alam dan Lingkungan Hidup di Jakarta (tahun 1975) mengatakan :

Dengan perkiraan bahwa setiap rumah tangga terdiri dari 6 orang, maka lebih dari 8 juta rumah tangga di Indonesia kini masih hidup dengan pendapatan keluarga yang berkisar Rp. 400 per hari rata-rata per keluarga. Keadaan demikian ini di masa depan harus diubah secara drastis untuk menjaga kestabilan masyarakat, dan agar kemiskinan absolut diperbaiki secara jelas, tegas dalam proses pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk mencapai sasaran ini, kebijaksanaan masa depan harus diarahkan kepada keadaan di mana pada tahun 1990 nanti 40 persen jumlah penduduk dengan pendapatan terendah akan memperoleh 18 persen dari pendapatan nasional dan pada tahun 2000 setidak-tidaknya bisa menerima 20 persen (seyogianya lebih dari itu) dari pendapatan nasional......

Pandangan ke depan Profesor Sumitro tentang kesejahteraan bangsa bagus sekali dan telah masuk sebagai kebijakan pemerintah pada zaman itu. Tapi baik pada zaman Orde Baru maupun di zaman Orde Reformasi masalah besar terdapat pada manusia pelaksananya. Kebijakan sudah bagus tapi “the man behind the gun” banyak yang korup dan tidak beres kerjanya.

Itu sebabnya sampai tahun 2013 sedikitnya setengah dari 250 juta orang Indonesia masih hidup dalam kemiskinan termasuk daerah-daerah seperti Papua, Tapanuli, Nias, dll.

Kedua, karena sebagian orang Kristen Indonesia belum memiliki iman Kristen yang sejati. Ada tiga hal penting yang harus dilakukan orang Kristen di Indonesia agar Kesejahteraan Bangsa juga merupakan Kesejahteraan Gereja.

1. Yeremia 29:7 “dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

    Berdoa, berdoa dan berdoa untuk desa kita, kota kita, provinsi kita, untuk daerah kita, untuk negara kita.

1 Timotius 2:1-4 “Pertama-tama aku menasihatkan:

Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”

    Berdoa untuk masyarakat, untuk pemerintah, untuk keamanan, untuk POLRI, untuk lembaga Peradilan, untuk seluruh rakyat Indonesia agar diselamatkan, dll.

    Berdoa dan berpuasa untuk kesuksesan rancangan kesejahteraan yang besar. Matius 17:21.

2. Yosua 1:7-8 “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.

Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”

    Umat Tuhan yang mempraktekkan ketaatan total kepada Firman Allah akan mengalami transformasi di dalam hidupnya. Terjadi keberhasilan, kemakmuran dan kesejahteraan di daerah atau di wilayah di mana mereka bermukim.

3. Yeremia 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang.”

1 Petrus 2:12-15 “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.”

Orang Kristen yang mendambakan kesejahteraan bangsa, harus menunjukkan performansi kerja yang baik, musti menampilkan kinerja yang luar biasa.

Kita harus memiliki etos kerja yang tinggi dalam mengupayakan kesejahteraan. Dalam Kitab Amsal kita diperingatkan untuk jangan malas. Belajarlah kepada semut! Demikian Firman Tuhan.

Gereja harus menjadi terang dunia, terang di Indonesia. Terang yang bercahaya dari orang Kristen di tengah masyarakat berarti melakukan perbuatan yang baik. (Matius 5:16).

Gereja juga harus menjadi garam dunia, yang memberikan cita-rasa, yang mempengaruhi semua kebutuhan utama manusia, yaitu : ekonomi-keuangan, pendidikan, sosial-politik, pemerintahan, hukum, media-massa, dll. (Matius 5:13).

Kesejahteraan bangsa, kesejahteraan gereja harus dicapai melalui prosedur Illahi yaitu : berdoa, ketaatan total kepada Firman Allah dan berusaha, berbuat, berkarya.

Iblis adalah penentang kesejahteraan. Ia mencoba keras menggagalkan kesejahteraan yang kita usahakan. Sebab itu Setan harus dikalahkan, pengaruh kotornya harus dibersihkan dulu. Kita musti bergelut dengan tekun dan harus menang, dan sukses.

Kesejahteraan kita miliki, karena itulah janji Tuhan, adalah anugerah Tuhan. (Mazmur 147:14).

Kita berdoa terus dan berjuang terus untuk kesejahteraan Indonesia.

Tuhan Yesus Kristus memberkati!

Ceramah ini disampaikan pada acara KTN ke-50 YPPII Batu, Juli 2013, dengan tema : "Rayakan Tahun Kesejahteraan"

                                          ------------------------------------------------------------------------------

 

Share