Pengalaman Perjalanan Kehidupan Yesus (1)

Saat ini kita berada di penghujung tahun dan bersiap untuk memasuki tahun yang baru. Kalau kita dapat sampai pada hari ini, itu semua hanya berkat kasih karunia Allah dalam kehidupan kita. Kasih karunia-Nya telah dinyatakan melalui peristiwa kelahiran Yesus sampai nanti kedatangan-Nya yang kedua. Perjalanan kehidupan Yesus menunjukkan begitu besarnya kasih Allah kepada manusia. Adapun perjalanan kehidupan Yesus adalah sebagai berikut:

1.     Yesus Lahir

Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. (Luk. 1:1-7)

Yesus sudah mengalami penderitaan dan sengsara sejak berada dalam kandungan. Semua orang terlalu sibuk untuk menyambut kedatangan-Nya sebagai seorang Raja dan Mesias. Bahkan ia harus lahir di dalam kandang, sebuah tempat yang sangat tidak layak untuk seorang anak dilahirkan.

Ini merupakan gambaran bahwa selama berada di dunia manusia tidak mungkin lepas dari penderitaan (Rm. 8:22). Menjadi anak Tuhan juga bukan berarti kita terlepas dari penderitaan. Justru Tuhan menuntut setiap pengikut-Nya untuk menyangkal diri dan memikul salib agar menjadi gereja yang sempurna (Mat. 16:24; Gal. 4:19).

2.     Yesus Disunat

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk. 2:21)
Sunat bagi gereja Tuhan adalah sunat rohani, yaitu sunat di dalam hati (Rm. 2:29), yang maknanya adalah kesucian dan kemurnian hidup (Kol. 2:11).

3. Yesus Diserahkan

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. (Luk. 2:22)
Betapa pentingnya untuk kita sebagai orang tua menyerahkan anak-anak kita kepada Tuhan dengan hati yang tulus dan roh yang sepakat. Selain menyerahkan anak, kita juga harus menyerahkan kehidupan kita secara total kepada Tuhan. Hal ini memang memerlukan pengorbanan, tetapi Roh Kudus akan menghiburkan dan menguatkan kita.

3.     Kedatangan Orang Majus

Sesudah Yesus dilahirkan di Bethlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2)
Orang Majus adalah orang yang kaya dan terpandang, tetapi mereka bersemangat melakukan perjalanan yang jauh dan tidak mengenakkan hanya untuk mencari Yesus. Mereka ini bukan dipimpin oleh Roh Kudus atau firman Tuhan, melainkan oleh bintang (ramalan). Meskipun demikian hati mereka sepenuhnya hanya tertuju kepada Tuhan. Mereka sempat tersesat dan menemui Herodes, yang berakibat pada kematian anak-anak yang tidak berdosa di Bethlehem. Tetapi semua itu diijinkan oleh Tuhan untuk terjadi.

Kita sebagai orang percaya mungkin dapat tersesat dan melakukan kesalahan. Jangan kuatir, Tuhan sebagai Gembala Agung akan membawa kita, domba-domba-Nya, untuk kembali ke jalan yang benar, asalkan hati kita murni dan taat. Mungkin juga ada orang yang mau mencelakakan kita. Percayalah bahwa Allah berkuasa dan memiliki banyak cara untuk menyelamatkan kita.

Gereja Tuhan di akhir zaman akan memenangkan banyak jiwa, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai “membunuh” jiwa. Dengan cara apa kita “membunuh” jiwa? Bisa dengan perkataan kita, bisa juga dengan perbuatan kita yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Karena itu Paulus menasihati Timotius dalam 1 Tim. 4:16, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”

4.     Penyingkiran ke Mesir

Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” (Mat. 2:13-15)
Mesir merupakan gambaran dari tempat yang tidak tepat bagi kita. Tetapi camkanlah, Tuhan tidak pernah salah! Kalau Tuhan yang menyuruh, maka lakukan saja tanpa menunda-nunda, sebab ada rencana Tuhan yang indah dalam kehidupan kita. Namun ingat, kita harus benar-benar tahu kalau itu adalah suara Tuhan, bukan sekedar tindakan nekad.

5.     Yesus Kembali dari Mesir

Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” (Mat. 2:19-20)

Jalan Tuhan memang tidak dapat kita mengerti. Bahkan tidak jarang berliku-liku. Namun ikutilah Tuhan terus, sebab semuanya itu tidak ada yang sia-sia, melainkan berguna dan mendatangkan kebaikan.

6.     Yesus Pada Umur Dua Belas Tahun

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu… Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Luk. 2:41-52)
Betapa pentingnya peranan orang tua terhadap perkembangan kerohanian anak. Orang tua sudah seharusnya secara rutin membawa anak-anak untuk beribadah.

Peristiwa Natal merupakan bukti dari besarnya kasih Allah kepada kita. Kiranya kita mendapatkan keselamatan, damai sejahtera, sukacita, serta segala kuasa dan berkat yang akan menyertai kita sampai akhir tahun, memasuki tahun yang baru, dan sampai selama-lamanya… Tuhan Yesus memberkati!

Share