Motivasi Mengikut Yesus


Motivasi Mengikut Yesus
Ayat Pokok: Matius 13:2
Oleh: Pdt. Yos Hartono (Yogya)


Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ,
sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Matius 13:2

 
Tak dapat disangkal, Yesus memang adalah pribadi yang menarik, sehingga banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti-Nya. Begitu banyaknya orang yang datang sampai tidak ada tempat lagi bagi Yesus untuk berdiri. Yesus bahkan harus naik ke atas perahu untuk mengajar. Mereka ini sampai rela meninggalkan kesibukan dan rutinitas mereka hanya untuk melihat Yesus. Apa sebenarnya yang menjadi motivasi mereka? Apakah mereka ini nantinya akan memiliki komitmen untuk mengikut Yesus sampai akhir hidup mereka?

Pada kenyataannya ada begitu banyak dari mereka yang tidak setia. Ketika melihat Yesus ditangkap di Getsemani, diadili dan disiksa, bahkan disalibkan, sebagian besar memilih untuk meninggalkan Yesus. Simon Kirene, yang membantu Yesus memikul salib bukanlah salah satu dari orang banyak itu. Begitu juga dengan Yusuf Arimatea, yang menurunkan mayat Yesus dan menguburkan-Nya. Ia bukanlah termasuk orang banyak itu.

Bahkan para murid yang selalu bersama Yesus pun pergi meninggalkan-Nya. Petrus sebagai murid yang pemberani sampai menyangkal Yesus tiga kali. Bahkan Markus juga mencatat ada murid yang sampai lari dalam keadaan telanjang karena saking ketakutannya. Bukan itu saja, murid-murid juga memutuskan untuk kembali menjadi nelayan, profesi yang sudah mereka tinggalkan ketika mereka berkomitmen mengikut Yesus.

Yohanes 6:66 mencatat, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Ayat ini terjadi masih sangat jauh dari peristiwa salib. Lalu mengapa sampai ada banyak yang pergi meninggalkan-Nya? Ternyata penyebabnya ada di ayat 25-26: Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: Rabi, bilamana Engkau tiba di sini? Yesus menjawab mereka, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”

Tuhan adalah Allah Yang Mahatahu. Yesus mampu melihat sampai kedalaman hati mereka. Ternyata orang banyak itu mengikut Yesus hanya untuk mendapatkan roti. Dengan kata lain, mereka mengikut Yesus hanya agar terpenuhi kebutuhan jasmaninya. Memang mereka datang karena berbagai alasan, seperti untuk menerima kesembuhan, mendapat jawaban, memperoleh kelepasan, dan lain sebagainya. Yesus menyayangkan karena mereka mengikuti-Nya bukan karena telah melihat tanda mengenai siapa Yesus sebenarnya.

Kiranya ini menjadi cerminan bagi kita semua saat ini. Apa yang menjadi motivasi kita dalam mengikut Yesus? Apakah kita mengikut Yesus karena telah melihat tanda-tanda siapa Yesus sebenarnya, serta tanda bahwa zaman ini akan berakhir? Ataukah sebaliknya, kita mengikut Yesus hanya agar kita diberkati?
Berhati-hatilah, kalau kita mengikut Yesus hanya agar diberkati, maka ukuran rohani kita dapat menjadi salah.

Sekarang sedang berkembang pemikiran yang keliru, yang seiring dengan berkembangnya Teologi Kemakmuran, yaitu “Kalau saya diberkati dengan melimpah, maka saya adalah anak Raja, dan kalau ada orang-orang yang tidak diberkati, maka orang tersebut pasti memiliki salah dosa kepada Tuhan.” Yesus tidak pernah berkata seperti itu. Yesus malah berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”Justru Yesus berbicara mengenai penderitaan ketika mengikut Dia. Memikul salib terjadi ketika kita memutuskan untuk memberi, mengampuni, serta berkorban, bahkan mungkin kehilangan segala-galanya. Dan diberkati bukanlah hanya mengenai kecukupan materi, tetapi terlebih ketika seseorang memperoleh iman dan kekuatan untuk bertahan melewati segala penderitaan dan pergumulan hidupnya (bandingkan dengan kisah mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin).

Ikutlah Yesus karena ingin beroleh keselamatan dan terhindar dari bahaya si Iblis dan antikristus. Dan esensi terpenting dalam mengikut Yesus adalah karena kita mau memenuhi panggilan-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28). Yesus memanggil semua orang yang memiliki beban yang berat untuk datang kepada-Nya, baik beban karena dosa, maupun beban karena menanggung penderitaan hidup. Ketika kita datang kepada Yesus, maka secara otomatis atmosfer sorgawi dan perlindungan ilahi akan memenuhi hidup kita.

Karena itu tidak ada salahnya kalau kita berdoa seperti pemazmur dalam Mzm. 139:23-24, ”Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Kita meminta Tuhan Yang Mahatahu untuk menguji hati kita, agar dasar pengiringan kita kepada Tuhan tidak keliru. Kalau dasar pengiringan kita benar, maka kita tidak akan mundur apapun yang terjadi dan tetap setia sampai mati. Percayalah, Tuhan Yang Mahatahu itu juga mengetahui apa yang menjadi keperluan dan kebutuhan kita, bahkan sebelum kita mengucapkannya melalui doa (Mzm. 139:4). Kalau hati kita ini sudah cocok dengan kehendak-Nya, apa yang tidak dapat diberikan oleh Tuhan kepada kita?

Tanda-tanda menunjukkan bahwa kesudahan segala sesuatu akan segera tiba. Tanda-tanda ini adalah sinyal dari Tuhan agar kita menata hati, iman, dan dasar pengiringan kita kepada Tuhan. Miliki komitmen yang setia sampai akhir kepada Tuhan, sebab bukan materi dan kelimpahan yang akan membawa kita ke sorga, melainkan iman kita (Mrk. 13:12-13). Tuhan Yesus memberkati.

Share