Tetap Bertumbuh Ditengah Kesukaran

Aug 15 2016


Tetap Bertumbuh Ditengah Kesukaran
Ayat Pokok: Mazmur 92:13
Oleh: Pdt. Lodewyk Saerang

 

Kalau kita mempelajari Alkitab maka kita akan temukan bahwa Alkitab banyak sekali menggambarkan kehidupan orang percaya itu dengan sebuah obyek atau gambaran. Contoh orang percaya digambarkan seperti domba di tengah serigala, seperti kebun anggur, seperti mempelai dll. Salah satu yang kita temukan dalam pembacaan kita pagi ini adalah Firman Allah menggambarkan orang percaya seperti pohon korma yang tertanam dan seperti pohon aras yang bertunas di Libanon. Ini bukan sekedar kiasan, melainkan kalau kita pelajari lebih dalam maka ada keistimewaan yang dimiliki pohon aras dimana pohon ini biasa tumbuh di dataran tinggi yaitu di pegunungan-pegunungan dengan suhu yang boleh dikatakan ekstrim (bisa sangat dingin dan sangat panas). Namun istimewanya pohon aras bisa terus bertumbuh bahkan mencapai usia ratusan tahun dengan tinggi 40 meter dan lebar yang dapat mencapai 3-4m.
Dari sudut pandang iman kita dapat memahami bahwa kehidupan kekristenan haruslah seperti pohon aras yang dapat terus mengalami pertumbuhan meskipun berada dalam situasi yang sulit. Kekristenan sejati adalah kekristenan yang terus bertumbuh sekalipun ditengah situasi yang sukar. Tentu kita tahu bahwa kita hidup di masa yang sukar (2 Tim 3:1), dunia kita adalah dunia yang mengkhawatirkan. Bisa kita lihat hari-hari ini dalam bidang hukum yang benar dipersalahkan sedangkan yang salah anehnya dapat dengan mudah dibenarkan, belum lagi kesulitan ekonomi. Disamping itu tentu kita juga tidak dapat memungkiri perkembangan teknologi yang maju dengan sangat pesat namun tidak diikuti dengan pemanfaatan yang semestinya yang kemudian mengakibatkan banyak orang menggunakan teknologi untuk berbuat dosa. Singkatnya dunia mengalami degradasi moral yang memprihatinkan.
 Kita tentu dikejutkan dengan Negara Amerika yang notabene meletakkan dasar Kekristenan untuk membangun Negaranya (In God We Trust), namun justru melegalkan pernikahan sejenis di seluruh negara bagian. Dunia semakin demonstratif dengan dosa, mulai dari kota besar tidak kecuali sampai pelosok pedesaan pun.
Dosa semakin bertambah dan membuat situasi menjadi semakin sulit, namun Firman Allah berkata ditengah keadaan dunia yang semakin sukar dan tidak ada kepastian ini orang benar harus tetap menjadi seperti pohon aras yang bertumbuh subur mengarah ke rumahNya Tuhan.
Bertumbuh adalah suatu fase yang harus kita alami karena dengan bertumbuh kita baru dapat menghasilkan buah. Dengan kata lain tidak ada buah tanpa pertumbuhan. Jadi orang percaya harus tetap bertumbuh dan berbuah sekalipun ada ditengah keadaan yang sukar, bagaimana caranya? Kita akan belajar dari Firman Tuhan berikut.
“Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti” (Kej 41:53-54)
Ayat ini menunjukan ketika terjadi 7 tahun kelaparan (masa yang sukar) itu tidaklah membuat Mesir kekurangan makanan, sebaliknya dengan jelas Alkitab berkata disaat kelaparan terjadi malah di seluruh negeri Mesir ada roti. Saat semua negeri yang lain menderita di masa yang sukar itu justru Mesir mengalami kelimpahan. Apa yang membuat kejadian ini bisa terjadi? Peristiwa ini tentu tidak bisa lepas dari peranan tokoh bernama Yusuf bin Yakub. Dialah yang memainkan peran penting untuk menjaga kestabilan Mesir sehingga tetap bertumbuh dan berbuah disaat musim kelaparan melanda dunia.
Kita dapat belajar dari apa yang dilakukan oleh Yusuf sehingga tetap bertumbuh dan berbuah di tengah kesukaran. Ada 3 hal yang dimiliki oleh Yusuf, yaitu :

1.   Yusuf mengenal dan mengerjakan kehendak Tuhan
Yusuf dalam hidupnya adalah seorang yang terus menerus mencari tahu apa yang Tuhan inginkan. Dalam kitab Kejadian pasal 37 menceritakan awal dimana Yusuf belajar mengerti kehendak Tuhan. Kisah ini diawali dengan Yusuf bermimpi melihat berkas jerami milik saudara-saudaranya bahkan orangtuanya tunduk kepada berkas jerami miliknya. Ini bukan sekedar mimpi biasa karena dari kejadian inilah Yusuf mulai mengenal kehendak Allah dalam hidupnya.
Demikian juga dalam kehidupan orang percaya kita harus mengerti bahwa di dalam Tuhan tersedia sesuatu yang lebih baik (Ibrani 6:9). Saat kita mengerti kehendak Tuhan sesungguhnya kita sudah mendapati sesuatu yang lebih baik itu, seperti halnya Yusuf yang mengerti bahwa Tuhan akan membawa dia semakin naik, menuju hidup yang lebih baik bukan lebih buruk. Itulah sebabnya Yusuf tidak pernah mengeluh sekalipun mengalami hal yang buruk. Contohnya ketika dia mengantarkan makanan bagi kakak-kakaknya justru dia ditangkap dan dijebloskan ke dalam sumur kering, tapi itu tidak membuat Yusuf sedih karena Yusuf tahu hidupnya tidak berakhir di sumur. Yusuf sudah mengerti kehendak Tuhan bagi dirinya yaitu naik dan bukan turun! Demikian juga dia tidak mengeluh ketika dalam keadaan telanjang dijual oleh kakak-kakaknya, dia harus berjalan kaki dari tanah Kanaan sampai ke Mesir yang pada waktu itu membutuhkan waktu 4 bulan perjalanan!
Keteguhan hati Yusuf dalam mengerti kehendak Tuhan tetap teruji bahkan ketika dia digoda oleh istri Potifar. Yusuf  bertahan dalam kesuciannya karena Yusuf tidak mau rancangan Tuhan yang luar biasa baik bagi  hidupnya menjadi hancur. Kita harus cari tahu dan belajar sungguh-sungguh untuk mengenal kehendak Tuhan bagi hidup kita dan cara untuk kita mengenal kehendak-Nya adalah dari Firman-Nya.
Tuhan punya berbagai macam cara dalam menyampaikan Firman-Nya dan menyatakan kehendak-Nya kepada orang percaya contoh :
·     Kepada Bileam Tuhan memakai seekor keledai yang bisa berbicara
·     Kepada Daud Tuhan memakai suara daun kertau sebagai isyarat untuk maju berperang.
Dalam kisah Daud dan daun kertau kita menarik pelajaran bagaimana Daud tidak lagi fokus kepada musuh yang akan menyerang tapi sebaliknya dia memusatkan perhatiannya kepada apa yang Tuhan kehendaki.
Kalau fokus kita terarah kepada kehendak Tuhan maka masalah apapun boleh melanda hidup kita tetapi kita akan keluar sebagai pemenang bahkan lebih dari pemenang. Karena itu penting bagi kita mengenal dan mengerti kehendak Allah.
Yusuf adalah seorang yang terus mencari tahu dan berhasil mengerti kehendak Tuhan kemudian melakukannya. Dengan demikian dia dapat memberi jawab kepada Firaun perihal mimpi Firaun yang tidak dapat dijawab oleh orang lain.
Bagaimana sikap kita jika suara Tuhan itu datang dan memerintahkan kita untuk melakukan kehendakNya? Misalnya untuk mengampuni sesama atau untuk mengembalikan milik Tuhan, bagaimana respon kita? Maukah kita taat? Tentu ada berkat yang akan Tuhan berikan ketika kita mengerti kehendak Tuhan dan mau melakukannya.

2.   Yusuf menjadi pengelola yang baik
Kita perlu mengerti semua yang kita miliki hari ini sumbernya adalah dari Tuhan dan kita harus menjadi pengelola yang baik. Itu juga yang dilakukan oleh Yusuf. Ketika berada dalam masa kelimpahan dia memerintahkan bangsa Mesir menyimpan bahan makanan sehingga saat datang masa kelaparan mereka tidak kekurangan.
Hidup kita di dunia ini tidak akan selalu berjalan dengan baik karena akan tiba saatnya datang masa yang sukar atau sulit, tapi jika kita menjadi pengelola yang baik maka kita akan terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Contoh kita harus mengelolah waktu dengan baik, ada waktu untuk menabur ada waktu menuai, ada waktu bekerja ada waktu beribadah. Dengan demikian maka kerohanian kita akan bertumbuh. Begitupun dengan mengelolah keuangan kita dengan baik.
Kita harus menjalin detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dengan baik dengan demikian kita bisa hidup berkenan di hadapan Tuhan.

3.   Yusuf Memiliki Penguasaan Diri
Yusuf mengajarkan kepada orang Mesir untuk mengendalikan diri dalam hal tidak boros pada masa kelimpahan. Dalam kehidupan kita ini bukan hanya penguasan diri tidak hanya terbatas pada masalah keuangan, tapi juga menguasai diri untuk tidak melakukan dosa. Dunia ini penuh tawaran menggoda, iblis tahu kelemahan kita sehingga ia akan menawarkan sesuatu yang sesuai dengan kelemahan kita. Misalnya kelemahan kita adalah uang maka ia akan menawarkan uang, jika kelemahan kita adalah seks maka ia akan memberikan penawaran menarik tentang seks , begitu juga dengan kesombongan atau hal lainnya, untuk itulah kita perlu memiliki penguasaan diri.
Dalam Galatia pasal 5 ada pelajaran tentang buah Roh, kita akan temukan yang menempati puncak adalah kasih namun untuk sampai kepada kasih kita harus mulai dari yang dasar yaitu penguasaan diri, kalau kita memiliki penguasaan diri maka kita bisa memiliki yang lain (sukacita, damai sejahtera, kesabaran dan lain-lain). Penguasaan diri adalah buah dari Roh Kudus, karena itu Yesus berkata “Aku akan mengirimkan penolong yang lain”. Karena Roh Kuduslah yang akan menghasilkan buah penguasaan diri dalam hidup kita.
Dengan kekuatan diri sendiri kita akan alami kesulitan, sebaliknya apabila Roh kudus memenuhi seluruh hidup kita maka kita akan beroleh penguasaan diri, karena itu kita harus terus meminta untuk dipenuhkan oleh Roh kudus.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dengan mengenal kehendak Tuhan, menjadi pengelolah yang baik dan memiliki penguasaan diri maka kita akan menjadi orang yang tetap bertumbuh dan menghasilkan buah meskipun di tengah masa yang sukar. Haleluya. (DK)