Garam Dunia

Jan 20 2016

GARAM DUNIA
Ayat Pokok: Matius 5:13
Oleh: Pdt. A.H. Mandey
Khotbah tgl 10 Jan 2016

 Kamu adalah terang dunia!  Itulah tema kita di sepanjang tahun 2015.  Tema tahun ini saya ambil dari Matius 5:13 – “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
 

Garam
Sebagaimana gula harus terasa manis, demikianlah garam harus asin.  Jika garam kehilangan rasa asinnya, maka ia tak lagi berguna.  Ia tak dapat diasinkan lagi.

Tuhan menghendaki kita menjadi garam yang sangat dibutuhkan dunia!  Tiap orang membutuhkan garam.  Dengan kata lain, setiap manusia di dunia memerlukan saudara dan saya!

Manfaat garam sangat banyak.  Yang terutama, antara lain:

  • Sebagai penyedap rasa.  Bayangkan masakan tanpa garam;
  • Pengawet alami/mencegah proses pembusukan; 
  • Dalam dunia medis, untuk mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh.

Bukan hanya manusia yang perlu garam.  Tanah pun memerlukan pupuk yang mengandung garam.  “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja...” – Lukas 14:34-35.

Di zaman Perjanjian Lama, setiap korban sajian yang dipersembahkan kepada Tuhan harus dibubuhi garam!  “Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kau-persembahkan garam” – Imamat 2:13.

Di Yerikho, Elisa menyehatkan air yang menyebabkan keguguran bayi dengan garam – 2 Raja-Raja 2:19-21.  “Berkatalah penduduk kota itu kepada Elisa: "Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi."   Jawabnya: "Ambillah sebuah pinggan baru bagiku dan taruhlah garam ke dalamnya."  Maka mereka membawa pinggan itu kepadanya.  Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: "Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi."  Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa.”  Puji Tuhan!

Garam Dunia
Tuhan menjadikan saudara dan saya terang bagi dunia yang gelap.  Bagai kota yang terletak di atas gunung, terang tak dapat disembunyikan. 

Tuhan juga menghendaki saudara dan saya menjadi garam yang sanggup memberi dampak positif: mengubah dunia yang jahat menjadi baik.  Sebagai garam dunia, kedudukan kita sangat penting; keberadaan kita sangat dibutuhkan.  Haleluya!  Saudara dan saya adalah garam dunia.  Namun hati-hati, jika garam menjadi tawar, ia tak lagi berguna.  Ia akan dibuang dan diinjak-injak! Tuhan Yesus memberkati saudara! 

“ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?”

May 05 2014

“ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?”
Ayat Pokok: Mazmur 22
Oleh: Pdt. A.H. Mandey
Khotbah Jumat Agung 18 April 2014


Jauh sebelum Yesus disalib, pemazmur yang hidup kira-kira 1000 tahun sebelum Yesus lahir, telah menubuatkan dan menggambarkan sengsara dan penderitaan maha dahsyat yang harus dialami Anak Allah, Juruselamat umat manusia!

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”
Sesaat sebelum menyerahkan nyawaNya di Bukit Golgota, Yesus berseru dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?”  Artinya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Di tengah penderitaan tak terperikan, Yesus merasa Allah meninggalkanNya.  Mengapa?  Sebab mata Allah terlalu suci sehingga Ia tidak dapat memandang kejahatan dan kelaliman – Habakuk 1:13.  Di kayu salib, saat itu Yesus tengah menanggung dosa seluruh umat manusia!

Musuh mengepung dari segala penjuru: lembu jantan, banteng dari Basan, anjing, gerombolan penjahat – Mazmur 22:13-19.  Dan sebagai manusia, Ia merasa ditinggalkan oleh AllahNya!  “Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Lebih dari penderitaan fisik, kesengsaraan paling hebat dan memilukan yang dirasakan Yesus adalah ketika Ia seperti terpisah dan ditinggalkan AllahNya!  Semua dengan taat dijalaniNya agar supaya:
1. Sebagai orang berdosa, saudara dan saya tidak perlu lagi mengalami aniaya
   dan sengsara seperti yang dialami Yesus; dan
2. Saudara dan saya tidak akan pernah ditinggalkan Allah! Haleluya!

Rusa Fajar
Saat harus menghadapi sengsara di Bukit Golgota, oleh pemazmur, Yesus digambarkan bagai Rusa di kala fajar – waktu paling rentan untuk ditangkap para pemangsa.

Salah satu putera Yakub, Naftali, digambarkan sebagai rusa betina yang akan melahirkan anak-anak indah – Kejadian 49:21.  Kematian Yesus di kayu salib menghasilkan banyak anak indah = orang-orang percaya: saudara dan saya!
Allah memberi keperkasaan dan membuat kaki Daud seperti kaki rusa sehingga dapat berdiri di atas bukit – Mazmur 18:33-35.

Kepada kita dikaruniakan bukan saja untuk percaya dan menerima keselamatan, tetapi juga menderita untuk Dia; ikut merasakan apa yang Ia rasakan – Filipi 1:29.  Kalau Tuhan ijinkan kita mengalami penderitaan di dunia ini, percayalah Ia juga akan memberi kita kekuatan dan kemenangan!  Haleluya!

Kematian Yesus membawa kemenangan.  Kematian Yesus adalah awal menuju kehidupan kekal!  Puji Tuhan!  Tuhan Yesus memberkati saudara!

Menanti-nantikan Tuhan

Mar 14 2013

MENANTI-NANTIKAN TUHAN
Ayat Pokok: Mazmur 25:1-5
Oleh: Pdt. A.H. Mandey

 Allah mengangkat lima jawatan: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar dengan satu tujuan: memperlengkapi jemaat untuk melayani dan membangun Tubuh Kristus.  Haleluya!

Kristus adalah Kepala.  TubuhNya adalah satu organisme yang terdiri dari banyak orang kudus, antara lain: saudara dan saya.  Sebagai organisme, kita harus bertumbuh sampai mencapai  kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus – Efesus 4:11-16.