Lutut

Ayat Pokok: Yehezkiel 47:4               
Oleh: Pdt. A.H. Mandey

Yehezkiel 47 berbicara tentang sesuatu yang dilihat oleh nabi Yehezkiel; mempunyai kegenapan waktu di belakang hari. Inilah yang disebut hari kiamat. Yehezkiel melihat suatu bangunan yang disebut Bait Suci (Rumah Allah). Tuhan mau Bait Suci menjadi tempat ibadah yang suci. Air yang keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci adalah suci. Air itu membersihkan semua yang kotor.

Timur berbicara tentang sorga (Yehezkiel 43:1-7). Pada hari kiamat orang-orang yang percaya pada Yesus akan bangkit dan diangkat ke sorga. Dalam Matius 24 diceritakan tentang Yesus yang setelah dewasa dibaptis dalam air dan dipenuhi dengan Roh Kudus, mengajar tentang firman Allah. Kemudian Yesus mati, dikubur dan bangkit. Batu yang menutup kubur Yesus terguling. Ini merupakan bukti bahwa ada kuasa dalam Yesus. Mengapa Yesus mati disalib? Yaitu untuk menyelamatkan kita.

“Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, .... maka dalamnya sampai di pergelangan kaki (= perjalanan hidup). ... ia mengukur seribu hasta lagi ...” (Yehezkiel 47:3-4). Pengukuran itu dilakukan sampai empat kali (ayat 3-5). Satu hasta sama dengan seribu tahun. Jadi empat kali pengukuran sama dengan 4000 tahun; merupakan perjalanan yang harus ditempuh oleh nabi Yehezkiel. “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari” (Amsal 4:18). Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah, lututnya kuat, tahan berlari dan berjalan cepat. “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! (Pengkhotbah 4:17). Kalau kaki kita sudah diatur, berjalan dengan baik dan sampai di rumah Allah, mendengarkan firman, maka kita akan mendapatkan berkat yang besar.

“.... dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; ....” (Yehezkiel 47:4). Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan yang telah menampakkan diri kepadanya dalam perjalanannya menuju ke Tanah Perjanjian (Kejadian 12:1-10). Mezbah adalah tempat orang menyembah Tuhan. Menyembah = sujud dengan melipatkan kaki = berlutut. Yesus pernah berkata kepada murid-murid-Nya, “Apakah kamu tidak bisa berdoa satu jam saja?” Ini menunjukkan betapa pentingnya berdoa.

Dalam Ibrani 10:25 dikatakan, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, ....” Jadi kita harus setia dalam ibadah, saling mendorong dan menasehati. Ada hubungan yang baik dalam gereja. “... Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur (= nyanyian), ....” (1 Korintus 14:26). Jadi bila datang dalam kebaktian, kita harus siap bernyanyi. Puji-pujian menyenangkan hati Tuhan. Dia bertahta di atas pujian. Dari 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus, hanya satu orang yang kembali untuk mengucapkan terima kasih. Yesus bertanya, “Dimanakah yang sembilan orang?” Tuhan menunggu ucapan terima kasih kita. Karena itu kita harus belajar untuk berterima kasih kepada Tuhan. Ini juga merupakan ibadah kita kepada Tuhan. “Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada ditengah-tengah mereka."  Pasti kita akan merasakan berkat-Nya!

Share