Dua Tipe Anak Tuhan

Dua Tipe Anak Tuhan
Ayat Pokok: Lukas 15:11-32

Oleh: Pdt. Gideon Santoso

 

Pendahuluan

Yesus memberi perumpamaan tentang anak terhilang bukan hanya sekedar sebuah kisah, tetapi sedang memberikan gambaran tentang kehidupan orang percaya sebagai anak Bapa dalam keluarga Allah.  Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah ini. Keduanya berstatus anak. Itu artinya Tuhan tidak sedang berbicara tentang orang diluar Tuhan, tetapi orang percaya dalam keluarga Allah. Hal kedua disebutkan tentang dua anak,  yaitu anak sulung dan  anak bungsu. Hal ini tidak lain berbicara tentang dua tipe anak Tuhan, tipe anak sulung, dan tipe anak bungsu. Alkitab tidak menyebutkan siapa nama kedua anak tersebut, karena Yesus sedang berbicara tentang gambaran kehidupan dua tipe anak Tuhan ini. Bisa jadi kitalah salah satu dari tipe dari kedua anak itu.

 

MODEL KRISTEN ANAK BUNGSU

Ay. 12 – “Kata yang bungsu kepada ayahnya : Bapa berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang mennjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu diantara mereka.”

Anak bungsu yang berinisiatif meminta hak harta yang dimiliki bapanya. Jika kita tinjau dari sudut pandang tradisi orang Indonesia atau adat ketimuran, maka si bungsu bisa dibilang kurang etis, karena orang tuanya masih hidup kok sudah minta bagian warisannya. Tetapi tradisi di Israel tidak demikian. Jika anak memang sudah cukup dewasa, maka ia berhak meminta bagian warisan orang tuanya.

Sebagai anak Tuhan, kita memang punya hak untuk minta apa yang Bapa punya, seperti yang tertulis dalam :

Yohanes 15:7- “Jikalau kamu tinggal didalam Aku dan firmanKu tinggal didalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimannya.”

Setelah menerima haknya, si bungsu memilih untuk keluar dari rumah bapanya dengan menjual semua bagian hartanya (ay.13). Tidak lagi mau dibawah kontrol dan aturan bapanya, ia memilih untuk hidup semaunya dengan memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya.

Apa yang kemudian terjadi dalam kehidupan si bungsu, dengan hidup diluar rumah bapanya ?

Ay.14 – “ Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan didalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.”

Si bungsu alami krisis, bukan cuma melarat tapi jatuh kepada kenistaan. Bayangkan untuk makan makanan babi saja tidak diperbolehkan, ay.16.  Anak Tuhan yang memilih keluar dari pemeliharaan Allah pasti akan alami krisis bahkan kenistaan. Untuk makan makanan yang bukan makanan manusia saja tidak diperbolehkan. Babi lebih  beruntung dan terhormat dari dia karena untuk makan makanan babi saja ia tidak mendapatkannya, betapa nistanya si bungsu. Yang lebih tragis lagi dari orang yang meninggalkan rumah Bapa bukan saja alami krisis dan kenistaan, tetapi juga  terancam masuk kepada kebinasaan. Ibarat ranting anggur yang lepas dari pokoknya.

Yohanes. 15:5 – “ Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal didalam Aku dan Aku didalam dia, ia berbuah banyak, sebab diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barang siapa tidak tinggal didalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan kedalam api lalu dibakar.”

 

PELAJARAN DARI ANAK BUNGSU

Ada begitu banyak orang percaya yang mengaku anak Tuhan, tetapi hidupnya tidak menuruti aturan Bapa dan hidup menurut hawa nafsunya sendiri. Sebagai anak ia sudah terhilang, meski keberadaanya selalu hadir dalam kebaktian. Ia hilang dari jalan hidupnya yang benar. Secara fisik mungkin keberadaannya tidak seperti anak yang hilang, yang undur dari hadirat Tuhan, tetapi mungkin sudah banyak hal yang sudah hilang dalam kehidupan kita. Cobalah periksa kedalam diri kita. Bagaimana dengan kasih mula-mula kita kepada Tuhan, apakah masih tetap menyala? Jika tidak, sebenarnya kita sudah terhilang. Dalam kitab Wahyu 2:4 – Tuhan begitu mencela umat Tuhan yang sudah kehilangan kasihnya yang semula kepada Tuhan. Bahkan Wahyu 2:5- Tuhan menyebutnya sebagai kejatuhan yang paling dalam karena kehilangan kasih semula itu sama dengan kehilangan segalanya sebab apapun yang kita buat, prestasi yang kita raih semuanya bagai sampah yang tak berguna jika dilakukan tanpa kasih.

Bagaimana dengan semangat, ketekunan, ketulusan, motivasi kita? Masihkah itu ada dalam kehidupan kita dengan kemurniannya?  Jika salah satu saja sudah hilang dari kita, maka sebenarnya kita seperti anak bungsu yang sudah terhilang, hilang kasihnya, hilang ketulusannya, yang mungkin dulu melayani Tuhan dengan semangat tulus apa adanya, sekarang melayani asal ada apanya?

 

TINDAKAN BIJAKSANA

Jika kita termasuk tipe anak Tuhan model anak bungsu, maka segeralah bertindak dengan bijak seperti si bungsu.  Segera sadari dan temukan kondisi kita yang sebenarnya seperti si bungsu, dan segera bertindak karena kalau cuma sadar tanpa tindakan tidak akan ada perubahan. Tindakanlah yang dapat merubah keadaan kita.

Ay.18 – “ Aku akan akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya : Bapa aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa.”Jadi kesadaran dan tindakan balik kepada Bapa akan mengubah keadaan kita sebab jika cuma menyadari tanpa ada tindakan untuk kembali kepada kasih Bapa, itu sama seperti iman jika tanpa perbuatan adalah iman yang mati, Yak 2:17.

Bapa selalu menanti anak-anaknya yang sadar dari kekeliruannya untuk kembali.  Mari kita selidiki dan instropeksi diri. Apakah sebagai anak Tuhan selama ini tanpa disadari sudah banyak yang hilang, sehingga kelihatannya saja anak Tuhan, tetapi sebenarnya kita sudah keluar dari kasih dan tujuan Bapa di sorga.

 

MODEL KRISTEN ANAK SULUNG

Si sulung berbeda dengan si bungsu. Ia tetap ada dalam rumah Bapanya, tetap dalam aturan dan perlindungan Bapanya tidak seperti si bungsu. Namun ada hal-hal yang hilang dari Anak sulung dalam rumah Bapanya.  Hal apa sajakah itu ?

Luk.15:28- “ Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk …….

Ia marah mendengar kepulangan adiknya yang sudah berdosa kepada bapanya, yang bukan saja diterima kembali tapi malah dipestakan dengan sangat meriah. Si sulung tidak rela ia marah besar dan menolak untuk masuk dalam pesta itu.  Apa yang hilang dari anak sulung ini ? Anak sulung ini sudah kehilangan  “Kasih persaudaraan”. Jika kasih persaudaraan hilang dalam hidup kita, maka sebagai gantinya akan muncul “Kebencian.”

 

Apa kata Alkitab tentang kebencian.

1 Yoh 3:15.“Setiap orang yang membenci saudaranya,adalah seorang pembunuh manusia, Dan kamu tahu, bahwa tidak seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”  Semua orang pasti antipati dan tidak suka terhadap orang yang suka membunuh, tapi banyak yang tidak menyadari bahwa cukup dengan membenci saudara kita, kita sudah masuk dalam golongan para pembunuh manusia, lebih lanjut dalam :

1 Yoh 4:20. – “ Jikalau seorang berkata: “ Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.”

Selain disebut sebagai pembunuh manusia, orang yang membenci saudaranya juga mendapatkan gelar “Pendusta.” Kadang kita begitu geram dan marah kepada orang yang mendustai atau menipu kita, tetapi tidak menyadari kebencian kita kepada saudara kita sudah menjadikan kita juga seorang pendusta di hadapan Tuhan.

 

HAL LAIN YANG HILANG DARI SI SULUNG

Luk 15:29-30- Dalam bagian ayat ini, si sulung protes kepada Bapanya, karena ia merasa sudah bekerja dengan keras dan baik, tetapi tidak mendapatkan seekor anak kambing pun dari bapanya. Sementara si bungsu yang sudah meninggalkan, menghabiskan harta bapanya, lalu pulang malah dipestakan. Apa jawab bapanya :

Ay. 31 – “Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Ternyata Si sulung kehilangan komunikasi yang baik dengan Bapanya, sehingga ia lupa hak-haknya untuk dapat dinikmati dari semua yang dimiliki bapanya. Ia tidak menikmati kekayaan bapanya yang sudah tersedia.  Ada banyak anak Tuhan seperti si sulung. Sudah bertahun-tahun setia kepada Tuhan, tetapi tidak pernah menikmati berkat-berkatNya. Mengapa? Karena dia kehilangan persekutuan dengan Tuhan. Serumah tapi jarang ketemu. Koreksi kehidupan doa dan penyembahan kita kepada Allah.

Dalam kasus Marta dan Maria, Yoh.10:38-42, Yesus menegur Marta yang mengeluh karena sudah bersusah payah melayani Yesus. Sebaliknya Maria malah dipuji karena telah memilih bagian terbaik yang hanya karena mau duduk diam mendengar perkataan Yesus. Mengapa demikian?  Tuhan bukannya tidak mau dilayani, tetapi Tuhan ingin jangan sampai kita giat melayani tetapi kehilangan persekutuan dengan Tuhan. Demikian juga seperti si sulung, ia begitu giat bekerja tetapi kehilangan hubungan yang intim dengan bapanya. Saudara giat melayani Tuhan? Bagus !  Bagaimana dengan persekutuan pribadi anda dengan Tuhan? Kita akan banyak tahu apa yang Tuhan kehendaki dan semua hak yang akan kita terima dari Bapa, hanya melalui persekutuan yang karib dengan Tuhan, seperti Maria. Jika kita termasuk anak Tuhan tipe si sulung, segera perbaiki persekutuan kita dengan Bapa kita dan jangan ada lagi kebencian, tetapi lepaskanlah pengampunan sebagaimana Bapa juga telah mengampuni kesalahan kita. Haleluyah.

Share