Dari Kampung Kecil Ke Kota Besar Untuk Melayani

Pdt. DR. Johnny Weol STh, MMin, MDiv, MM, MTh
DARI KAMPUNG KECIL KE KOTA BESAR UNTUK MELAYANI TUHAN

“Saya Dipanggil Untuk Melayani”
Pdt DR. Johnny Weol STh, MMin, MDiv, MM, MTh adalah salah satu Hamba Tuhan yang memiliki kesuksesan sebagai seorang gembala, seorang kepala Rumah Tangga dan juga sebagai pemimpin organisasi gereja serta Sekolah Tinggi Teologia. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang mudah dia gapai dan itu juga bukan menjadi dasar untuk merasa lebih dari orang lain.

 
Clarissa dan Shereen berdiri dibelakang mama dan papa


Menyerahkan Hidup Melayani Tuhan
Tahun 1974 Johnny menyerahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi Hamba Tuhan. Di tahun itu ia ayunkan langkah kaki dari sebuah desa kecil bernama desa Rasi kecamatan Ratahan Minahasa Tenggara Sulawesi Utara menuju Sekolah Alkitab Airmadidi. Tahun 1976 Johnny yang muda dan cerdas menuju Pulau Jawa. Tujuannya adalah melanjutkan sekolah Alkitab tingkat dua di Batu Malang Jawa Timur. Usai mengikuti pendidikan tingkat dua ia ditempatkan menjadi pengerja di GPdI Ketapang dibawah pengembalaan Pdt AH Mandey. Disana mental dan kerendahan hatinya di tempah dan dibentuk menjadi Hamba Tuhan yang berkualitas dengan wawasan rohani dan berkepribadian yang humble serta memiliki jiwa militansi sebagai prajurit Tuhan.


Merintis Gereja Baru: Sempat dihina
Tak lama ia berpraktek sebagai pengerja di GPdI Ketapang, Hamba Tuhan murah senyum ini semakin maju melangkahkan kakinya yakni dengan merintis pelayanan baru di kawasan Jakarta utara tepatnya di daerah Pluit. Dengan menumpang kendaraan umum atau angkot dari GPdI Ketapang tempat praktek, ia sering bolak balik ke tempat pelayanan yang ia rintis. Secara jasmani, kelelahanlah yang menjadi temannya namun secara rohani sukacita melayani Tuhan yang menjadi semangatnya untuk terus bekerja buat Tuhan.

Tahun 1980 tampak buah-buah pelayanan mulai terlihat. Jemaat semakin bertambah dan nampaknya membutuhkan tempat ibadah yang lebih memadai. Maka berdasarkan ini, ia memberanikan diri mengajukan permintaan tanah untuk gereja kepada Gubernur DKI Jakarta dan kemudian oleh Gubernur yang kalah itu di jabat  oleh Tjokropranolo mengarahkan Hamba Tuhan muda ini ke Badan Pengembangan Lingkungan (BPL) Pluit. Kemudian hanya dengan waktu yang singkat ia membeli sebidang tanah dengan harga 42,5 juta rupiah. Sejumlah uang yang tak sedikit jumlahnya. Namun ketulusan dan kejujurannya dalam melayani serta giat dalam doa dan puasa membuat Tuhan mengadakan yang diperlukannya. Pada waktu ia akan mendirikan gereja, seorang Pendeta datang kepadanya dan menghinanya dengan kata-kata jemaat sedikit tapi bangun gereja besar. Tapi kemudian ia menjawab Pendeta yang mengejeknya dengan kata-kata Taman Eden saja besar  Tuhan hanya tempatkan dua orang manusia. Pendeta tersebut membisu mendengar kata-kata Johny.


GPdI El Uzay Muara Karang Jakarta

Dari Muara Karang Pluit, Hamba Tuhan yang memiliki wawasan luas ini melakukan ekspansi pelayanan ke Taman Aries Jakarta Barat. Berawal dari seorang jemaat yakni  Tan Tjen Bok seorang artis yang membeli rumah di Taman Aries meminta untuk mengadakan ibadah keluarga di rumahnya. Berawal dari ibadah keluarga itu, Tuhan membuka jalan sehingga pada tahun 1986 pelayanan disana berkembang dan menjadi sebuah jemaat lokal yang definitif.

 
Membangun Keluarga Bahagia Berawal dari Beribadah dirumah ”CaMer”
Setiap insan memiliki rasa yang tersimpan dalam lubuk sanubari yang dalam. Demikian juga dengan rasa cinta. Rasa ini akan muncul ketika ada dua insan yang berbeda saling berpandang atau saling jatuh hati. Ada berbagai macam jalan yang akan dilalui oleh cinta itu hingga ia akan bermuara kepada orang-orang yang tepat. Demikian juga dengan pengalaman Johnny. Dari pandangan pertama hingga rumah tempat ibadah dalam perintisan ladang baru disebuah rumah di kawasan Pluit (Rumah orang tua Rina) menjadi jalan bagi pria murah senyum ini untuk menemui cintanya.

Ketika cinta itu telah jatuh dihatinya maka dengan kedewasaannya ia menyampaikan niatnya kepada Pdt AH Mandey sebagai gembala dan kemudian ia melamar langsung kepada orang tua Rina. Tentu calon mertuanya sangat senang dan bangga akan memiliki menantu seorang Hamba Tuhan. Maka pada tahun 1982 setelah Rina selesai mengikuti sekolah Alkitab, ia menikahi Rina. Setelah menikah mereka memilih hidup mandiri dengan mengontrak rumah untuk tempat tinggal dan sekaligus dijadikan tempat ibadah. Sering mereka harus berpindah-pindah kontrak hingga akhirnya mereka membangun gedung gereja dan pastori di Pluit Muara Karang.

Ketua Mejelis Daerah GPdI DKI Jakarta ini bersyukur memiliki seorang Istri yang tentu takut Tuhan dan menopang dalam pelayanan yang sedang ia bangun. Bersama mereka membangun pelayanan hingga saat ini. Dari buah pernikahan mereka Tuhan mengaruniakan dua putri cantik Clarissa dan Shereen.


Menampung Anak-anak Yang Kurang Beruntung
Kesuksesan pelayanan telah diraihnya, berkat-berkat dari Tuhan telah berada dalam genggamannya, keluarga bahagia sudah menjadi miliknya. Namun dalam benak pria humoris ini masih ada yang kurang dari dalam dirinya yakni membantu anak-anak yang kurang beruntung. Hal yang kurang ini seolah masih mengganjal hati dan pikirannya maka ia pun bernazar kepada Tuhan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Maka sesegera mungkin akhirnya nazar ini mulai ia kerjakan. Ia mulai menampung anak-anak dari seluruh Indonesia untuk di sekolahkan. Hingga saat ini sudah puluhan anak dari berbagai daerah ia tampung di gereja Muara Karang Pluit dan disekolahkan hingga ke tingkat perguruan tinggi. “Selain bekal Rohani, bekal ilmu juga kami berikan kepada mereka hingga saat ini”. Papar Ketua Sekolah Tinggi Teologia Pantekosta Jakarta.

 
Gemar Menimba Ilmu
Salah satu kegemaran yang cukup menonjol dari pria kelahiran Minahasa Tenggara ini adalah menimba ilmu. Hal itu terlihat dari capaian-capaian ilmu yang di rengkung dari berbagai disiplin ilmu mulai dari Teologia, Manajemen dan berbagai bahasa yakni Inggris dan Rusia. Bahkan Amerika dan India pun di sambanginya untuk menimba ilmu. Hal ini dilakukannya, karena ia menyadari bahwa seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luas agar gereja dan organisasi yang di pimpin menjadi berkembang terlebih sebagai Hamba Tuhan ia harus meningkatkan kemampuan diri dalam mengemban tugas pelayanan. Ia pun berharap kepada Hamba-hamba Tuhan agar tidak berhenti belajar, menggali potensi diri sebagai Hamba Tuhan juga sebagai pemimpin.

 
Menjadi Pemimpin Organisasi Gereja dan Sekolah Tinggi Teologia
Selain gembala jemaat di dua gereja besar di kawasan Pluit dan Taman Aries, pemilik gelar Master Manajemen (MM) UKRIDA Jakarta  ini pernah menjadi Bendahara Umum GPdI dan beberapa kali menduduki salah satu ketua di jajaran Majelis Pusat GPdI. Selain itu telah 3 periode menjadi ketua Majelis Daerah GPdI DKI Jakarta sampai saat ini, satu periode di antaranya dipilih secara aklamasi oleh gembala-gembala GPdI se DKI Jakarta. Semua jabatan kepemimpinan itu baginya adalah anugrah Tuhan dan kepercayaan Tuhan. Sebab itu segala potensi yang ia miliki, ia dedikasikan untuk Tuhan.  Ia tidak ambisius dalam kepemimpinan namun jika kehendak Tuhan untuk membawa dia menjadi pemimpin maka ia tak akan menolaknya. “Saya tidak berambisi, tapi jika Tuhan menghendaki maka saya tidak akan mundur," ucapnya.

Dari kepemimpinannya ia berkomitmen untuk memaksimalkan kerja agar GPdI di Jakarta mengalami kemajuan. Dari sikap kepemimpinan dan paradigma kepemimpinannya banyak menimbulkan pendapat bahwa ia adalah pemimpin pelayan atau pemimpin yang selalu melayani. Betapa tidak, mulai dari urusan cabut gigi, berobat, melahirkan anak, penyediaan fasilitas bagi yang merintis ladang baru hingga pendidikan Theologia gratis di berikan kepada gembala-gembala GPdI Jakarta. Menurut penerima penghargaan  International Best Leadership Award 2010 ini, semua itu adalah bagian- bagian dari orientasi kepemimpinannya bersama rekan-rekan dalam jajaran Majelis Daerah DKI Jakarta.

Selain menjadi Pimpinan Gereja dalam Jabatan struktural, Hamba Tuhan yang rendah hati ini juga mendirikan Sekolah Tinggi Teologia Pantekosta Jakarta (STTPJ) sekaligus menduduki Jabatan Ketua STTPJ juga membuka STT Pantekosta di Tanah Papua.

 
Penghargaan Internasional “Tak Menyangka mendapat Penghargaan dari Lembaga Internasional”
Kepemimpinan yang diterapkannya dalam gereja lokal, organisasi dan Sekolah Teologia, nampaknya bukan hanya di nikmati dan diperhatikan oleh jemaat, sesama Majelis Pusat dan Majelis Daerah serta rektorat Sekolah Tinggi Teologia yang di pimpinnya. Namun tanpa sepengetahuannya sebuah lembaga Internasional berbasis di Amerika Serikat yakni  International Human Resource Development Program juga tertarik dengan sistem dan gaya kepemimpinannya sehingga diam-diam atau tanpa sepengetahuan Weol, mereka mengirim tim untuk melakukan sebuah riset tentang kepemimpinannya. Dan pada tahun 2010 ia di anugerahi penghargaan di bidang Kepemimpinan yakni International Best Leadership Award 2010 dari International Human Resource Development Program bersama dengan Menteri Kesehatan RI (bidang Kesehatan) pada tahun 2010.

Bagi peraih peraih Doctor Theologia ini, hidupnya hanya kemurahan Tuhan dan ia menyadari di atas semua yang di capainya dan apa yang masih impikannya, ia tetaplah seorang Hamba Tuhan. Sebab itu ia ingin mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan. “Saya di Panggil untuk melayani. Sampai mati saya akan tetap terus melayani Tuhan”. Tutup Sekretaris Jendral Persekutuan Kristen Indonesia sedunia (World Indonesian  Christian Fellowship)../rduo

Bio data:
Nama    :        Pdt. DR. JOHNNY WEOL, STh, MMin, MDiv, MM, MTh
Istri       :        Pdt. RINA WEOL, STh, MA
Anak     :        CLARISSA CINDY  ELISABETH WEOL, S.Kom, M.Ed
                       SHEREEN KENNY GABRIELLE WEOL, S.Sn, M.Des


Jabatan:
-    Gembala Sidang GPdI EL UZAY Muara Karang Pluit dan Taman Aries Jakarta
-    Ketua Majelis Daerah GPdI DKI Jakarta
-    Ketua Sekolah Tinggi Teologia Pantekosta Jakarta
-    Mantan Bendahara Umum GPdI
-    Mantan Ketua II Majelis Pusat GPdI
-    Sekretaris Jendral Persekutuan Kristen Indonesia sedunia (World Indonesian  Christian Fellowship)


Penghargaan:
International Best Leadership Award 2010 dari  International Human Resource Development Program, Berbasis di USA.


Pendidikan Tinggi:
-    1974 Sekolah Alkitab Airmadidi
-    1976 Sekolah Alkitab Batu Malang Jawa Timur
-    1994 Sekolah Tinggi Teologia “SETIA” Jakarta
-    1995 Master of Monistry dan Bachelor Of Ministry dari Acts Institute Bengalore India
-    1997 Master Of Divinity STT Cipanas
-    1998 Doctor Of Ministry Covington Seminary Atlanta USA
-    2009 Master Manajemen UKRIDA Jakarta
-    2010 Master Theologia STT “SETIA” Jakarta
-    Doctor Theologia STT Cipanas, MOU Dirjen Bimas Kristen Depag RI

Share