Kamis, 20 Sepember 2018 | 01:31 WIB

CATATAN MENJELANG 100 TAHUN GPdI

(Catatan ini bersifat evaluasi dan bahan pikiran)

GPdI hadir di Indonesiaonesia sejak th 1921 dimana dua 2 misioner Amerika keturunan Belanda memulai pergerakan di Indonesiaonesia dan pada tgl 4 Juni 1924 Pemerintah HIndonesiaia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indonesiaie” sebagai sebuah “Vereeniging”(perkumpulan) yang sah.
Jamu cap Nyonya Mener (NM) berdiri sejak th 1918, berarti NM dan GPdI sama2 PELOPOR, yang satu bergerak di bidang jamu dan yang lain Gerakan Pentakosta, tetapi sayang tahun 2017, NM sudah bangkrut. Penyebab bangkrutnya NM:
1. Kurang inovasi tidak dapat mengikuti kemajuan zaman, sehingga kalah bersaing dengan produk jamu lainnya.
2. Menejemen perusahaan tidak tertangani dengan baik.
3. Di dalam perusahaan terjadi ketidak harmonisan, perpecahan antar keluarga ahli waris.
4. Selalu bangga sebab merasa yang pertama dibandingkan dengan yang lain (zona nyaman), merasa sebagai pelopor Indonesiaustri jamu nasional, sebab sudah dikelola generasi yang ke empat.

Bangkrutnya NM jadi warning utk GPdI yang kita cintai ini.
Memang sebagai Gereja, GPdI tidak mungkin bangkrut, apalagi masalah pabrik jamu berbeda dengan pengelolaan organisasi gereja.
Tetapi kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berbahaya, tidak cukup hanya didoakan saja, tetapi harus ditangani dengan baik dan benar.

GPdI hadir di Indonesiaonesia sejak th 1921 dan untuk mengembangkannya didirikan Sekolah Alkitab di Jln. Embong Malang Surabaya dan kemudian pIndonesiaah ke SAB Batu.
Dan sampai saat ini GPdI di seluruh Indonesiaonesia memiliki puluhan SA dan STA.
Sebab bagaimana kualitas GPdI sangat ditentukan oleh MUTU PENDIDIKAN di SA/ STA nya.
1. Sudahkah memiliki sistem pendidikan yang telah disepakati dan sesuai dengan Alkitab, AD/ ART, dan sistem pendidikan nasional.
2. Bagaiamana tingkat kepatuhan / kedisiplinan melaksanakan sistem pendidikan yang sudah disepakati/ ditetapkan.
3. Apa dan bagaimana kontribusi MP & MD dalam masalah keuangan dan pengawasan.
( sebab di GPdI selama ini SA/ STA kebanyakan dibangun/ dibuat oleh gembala lokal dan MD )
4. Memilki standarisasi guru/ dosen pengajar sesuai dengan panggilan & kompetensinya.
( perlunya dapat tugas belajar di dalam negeri bahkan juga luar negeri dengan biaya MP/ MD).
5. Apa perlu di merger SA / STA yang terlalu banyak ini? Sehingga kualitasnya tidak asal2an.
( Apalagi fenomena yang terjadi GPdI lebih banyak memproduksi hamba2 Tuhan tamatan SA/STA daripada memenangkan jiwa, perbandingannya, jemaat GPdI sekitar 1 juta jiwa, gembala jemaat dan hamba Tuhan lulusan SA / STA puluhan ribu ).
6. Apa mungkin misalnya GPdI memiliki satu SA / STA yang benar2 dikelola dan dibiayai MP, yang mutunya benar2 standard.
7. Kurikulum di SA / STA di seluruh Indonesia harus sama, bersifat umum, kekinian, ada muatan lokalnya, bahkan tekanan pada misi harus kuat, dll.
Dengan doa dan harapan, bahan ini didoakan dan diperbaiki, semoga.

Berdirinya Gereja Pantekosta di Indonesiaonesia ( GPdI ) tidak terlepas dari kedatangan 2 keluarga missionaris dari Gereja Bethel Temple Seattle, USA ke Indonesia pada th 1921 yaitu Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren keturunan Belanda yang berimigrasi ke Amerika. Dari Bali maka pelayanan beralih ke Surabaya th 1922, kemudian ke kota minyak Cepu pada th 1923.

Di kota inilah F.G Van Gessel pegawai BPM bertobat dan dipenuhkan Roh Kudus disertai / disusul banyak putera – puteri Indonesia lainnya, yang kemudian menjadi pionir2 pergerakan Pantekosta di seluruh Indonesia.

Karena kemajuan yang pesat, maka pada tanggal 4 Juni 1924 Pemerintah Indonesia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indonesiaie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah.
Yang perlu diluruskan, lahirnya GPdI sebenarnya dihitung sejak kapan?
a. Sejak th 1921 Di Bali, yaitu dua keluarga misionaris dari Amerika.
b. Sejak 30 Maret 1923 Di Cepu, F.G Van Gessel pegawai BPM bertobat dan dipenuhkan Roh Kudus.
c. 4 Juni 1924 Pemerintah Indonesia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indonesiaie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah.

Semoga ada yang menanggapi dan meluruskan, yang benar kelahiran / dimulainya GPdI dihitung dari yang mana: a,b,c (keterangan diatas), khususnya dari senior2 GPdI atau MP.
Jangan sampai kita mengaku / merasa memiliki GPdI tetapi tidak tahu sejarah di mulainya.
(Sumber: Pdt. Samuel Jianto, gembala GPdI Sumenep)

  
                                                                                                                                              Van Gessel